Sushi dikenal sebagai salah satu makanan khas Jepang yang sangat populer di berbagai negara, termasuk Indonesia. Bentuknya yang sederhana, rasanya yang khas, dan kesannya yang “premium” membuat sushi punya tempat tersendiri di hati para pecinta kuliner. Tapi jujur saja, banyak orang menikmati hidangan ini tanpa benar-benar tahu cerita dan fakta menarik tentang Sushi unik di baliknya. Padahal, makanan satu ini punya sejarah panjang dan detail menarik yang jarang dibahas.
Artikel ini akan membahas enam fakta menarik tentang sushi yang mungkin belum banyak di ketahui orang. Cocok buat kamu yang suka sushi, penasaran dengan budaya Jepang, atau sekadar ingin menambah wawasan kuliner.
1. Sushi Awalnya Bukan Tentang Ikan Mentah
Sushi Kuno Lebih Mirip Teknik Pengawetan
Kalau selama ini kamu mengira sushi sejak awal berisi ikan mentah, faktanya tidak begitu. Sushi pada awal kemunculannya justru merupakan metode pengawetan ikan. Ikan di simpan bersama nasi yang di fermentasi untuk menjaga kesegarannya lebih lama. Menariknya, nasi tersebut tidak di makan, hanya di gunakan sebagai media fermentasi.
Konsep ini dikenal sebagai narezushi, yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Setelah proses fermentasi selesai, nasi dibuang dan ikan baru dikonsumsi. Jadi, sushi zaman dulu jauh dari kata praktis seperti yang kita kenal sekarang.
Evolusi Menuju Sushi Modern
Seiring waktu, teknik ini berkembang. Orang mulai memakan nasi dan ikan bersama-sama, terutama setelah ditemukan cara mempersingkat proses fermentasi. Dari sinilah cikal bakal sushi modern lahir dan mulai populer sebagai makanan cepat saji di Jepang.
2. Wasabi Asli Jarang Disajikan di Restoran
Wasabi Asli Sangat Mahal dan Langka
Banyak orang mengira pasta hijau yang di sajikan bersama sushi adalah wasabi asli. Padahal kenyataannya, wasabi asli sangat mahal dan sulit di budidayakan. Tanaman wasabi membutuhkan kondisi air, suhu, dan lingkungan yang sangat spesifik.
Karena itulah, sebagian besar restoran sushi menggunakan campuran lobak, mustard, dan pewarna hijau sebagai pengganti. Rasanya memang mirip, tapi tetap berbeda dengan wasabi asli yang lebih segar dan aromanya lembut.
Wasabi Bukan Sekadar Penambah Rasa
Fungsi utama wasabi sebenarnya bukan cuma soal rasa pedas. Wasabi memiliki sifat antibakteri yang di percaya dapat membantu mengurangi risiko bakteri pada ikan mentah. Jadi, kehadiran wasabi dalam sushi punya peran penting sejak dulu.
3. Cara Makan Sushi yang Benar Tidak Serumit Kelihatannya
Sushi Boleh Dimakan dengan Tangan
Di Jepang, makan sushi menggunakan tangan justru di anggap wajar, terutama untuk jenis nigiri. Sumpit bukan satu-satunya alat makan yang “benar”. Selama caranya sopan dan tidak berlebihan, menggunakan tangan sah-sah saja.
Bahkan, banyak orang Jepang merasa makan sushi dengan tangan membuat rasa lebih terasa karena sentuhan langsung dengan nasi dan ikan.
Jangan Merendam Nasi ke Kecap
Kesalahan yang sering terjadi adalah merendam nasi sushi ke dalam kecap asin. Cara ini di anggap kurang tepat karena nasi akan menyerap terlalu banyak kecap dan merusak rasa aslinya. Yang seharusnya di celup adalah bagian ikannya, bukan nasinya.
4. Tidak Semua Sushi Mengandung Ikan Mentah
Sushi Punya Banyak Varian
Banyak orang menghindari sushi karena mengira semua sushi berisi ikan mentah. Padahal, ada banyak jenis sushi yang menggunakan bahan matang, seperti udang rebus, telur dadar Jepang (tamago), belut panggang, hingga daging sapi.
Ada juga sushi vegetarian yang menggunakan sayuran segar, tahu, atau jamur. Jadi, sushi sebenarnya sangat fleksibel dan bisa di nikmati oleh berbagai kalangan.
Sushi Lebih ke Konsep, Bukan Bahan
Secara sederhana, sushi lebih mengacu pada nasi yang di bumbui cuka, bukan pada isiannya. Selama menggunakan nasi sushi, maka makanan tersebut masih bisa di sebut sushi, apa pun topping-nya.
5. Sushi Pernah Menjadi Fast Food di Jepang
Dijual di Pinggir Jalan
Pada abad ke-19, sushi berkembang menjadi makanan cepat saji di Jepang, khususnya di Edo (sekarang Tokyo). Nigiri sushi di jual di kios-kios kecil dan di makan langsung tanpa perlu duduk lama. Ukurannya pun lebih besar di banding sushi modern agar mengenyangkan.
Sushi saat itu adalah makanan rakyat, bukan makanan mahal seperti yang sering kita temui sekarang.
Perubahan Citra Sushi
Seiring globalisasi dan penyajian yang lebih elegan, citra sushi pun berubah. Dari makanan cepat saji, sushi naik kelas menjadi hidangan restoran mewah, terutama di luar Jepang.
6. Sushi Chef Membutuhkan Pelatihan Bertahun-tahun
Tidak Sekadar Memotong Ikan
Menjadi sushi chef bukan perkara mudah. Di Jepang, seorang calon chef harus menjalani pelatihan bertahun-tahun, mulai dari membersihkan dapur, menanak nasi, hingga akhirnya di izinkan memotong ikan.
Memotong ikan untuk sushi membutuhkan teknik khusus agar tekstur dan rasa tetap terjaga. Kesalahan kecil bisa memengaruhi kualitas keseluruhan sushi.
Nasi Adalah Kunci Utama
Banyak orang fokus pada ikannya, padahal nasi adalah elemen paling penting dalam sushi. Suhu, tekstur, dan bumbu nasi harus pas. Bahkan, ada restoran yang menilai kualitas sushi hanya dari nasinya saja.
Mengapa Sushi Tetap Populer Hingga Sekarang
Fakta Menarik tentang Sushi bukan sekadar makanan, tapi juga representasi budaya, tradisi, dan filosofi kesederhanaan khas Jepang. Setiap potongan sushi punya cerita, mulai dari sejarah panjangnya hingga detail kecil dalam penyajiannya. Tidak heran jika sushi tetap di cintai dan terus berkembang di berbagai belahan dunia.